TEMREDCOM: Lifestyle
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

11/01/2025

SMA Dwiwarna Siap! Begini Cara Sekolah Latih Mental Siswa untuk Lolos Tes TNI

SMA Dwiwarna Siap! Begini Cara Sekolah Latih Mental Siswa untuk Lolos Tes TNI
SMA Dwiwarna Siap! Begini Cara Sekolah Latih Mental Siswa untuk Lolos Tes TNI.

Banyak siswa yang bercita-cita menjadi TNI setelah lulus sekolah. Namun selain melengkapi berkas dan mengikuti tes, mereka juga perlu melatih mental agar siap mengikuti serangkaian tes yang diberikan saat ujian masuk TNI. Dalam hal ini, sekolah juga turut serta dalam melatih mental siswa agar lebih siap mengikuti tes TNI yang nantinya akan mereka hadapi.

SMA Dwiwarna (Boarding School) secara khusus telah mempersiapkan hal-hal yang diperlukan siswa, khususnya dalam upaya meningkatkan kemampuan, pembentukan karakter hingga melatih mental siswa agar mampu menghadapi hal-hal yang menguji kemampuan serta keterampilan mereka.

Cara Sekolah Melatih Mental Siswa untuk Lolos Tes TNI

Guna membentuk karakter dan melatih mental siswa, begini cara SMA Dwiwarna (Boarding School) melatih mental siswa agar bisa lolos tes TNI.

1. Menyediakan Layanan Catar (Calon Taruna)

Bagi siswa yang memiliki ketertarikan masuk ke sekolah kedinasan seperti Akpol, Akmil, STIP, STIN, Akademi Imigrasi, IPDN, dan sekolah lainnya, SMA Dwiwarna (Boarding School) secara khusus telah menyiapkan program Calon Taruna (Catar).

Lewat layanan ini, siswa akan diberikan sejumlah pelatihan, mulai dari bina jasmani, kesamaptaan, akademik, psikotes, SKD, MCU hingga kunjungan ke sekolah kedinasan. Program Catar yang disediakan oleh SMA Dwiwarna (Boarding School) boleh diikuti oleh siswa sejak berada di Kelas X (kelas 1 SMA).

2. Membangun Karakter Siswa

Menjadi anggota TNI dituntut untuk memiliki disiplin yang ketat, dan karakter yang kuat. Hal tersebut telah ditanamkan sekolah lewat sejumlah program dan fasilitas yang disediakan. Mulai dari tempat tinggal berupa asrama, program pengembangan keagamaan, pengabdian kepada masyarakat dan ekstrakurikuler pendukung yang dapat dipilih sesuai minat siswa.

3. Menyediakan Fasilitas Olahraga

Olahraga yang dilakukan secara rutin dapat membantu membangun mental siswa. SMA Dwiwarna (Boarding School) memiliki sejumlah fasilitas olahraga yang bisa digunakan untuk mengasah kemampuan dan melatih keterampilan siswa. Beberapa jenis olahraga yang bisa diikuti seperti renang, basket, kempo, karate, silat hingga panahan.

4. Pelatihan Kepemimpinan

Selain itu, sekolah juga mewadahi siswa yang ingin melatih kemampuan kepemimpinan melalui sejumlah program pengembangan organisasi dan kepanitian kegiatan sekolah. Program tersebut meliputi MPK, OSIS, Rohis, dan Annual Committee Festival Dwiwarna (FDW).

5. Meningkatkan Keterampilan Akademik

Selain melatih mental siswa dengan pembinaan fisik, SMA Dwiwarna (Boarding School) juga mengimbangi hal tersebut dengan meningkatkan keterampilan akademik siswa. Hal tersebut dicapai dengan memperkuat materi pelajaran inti seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, yang sering diujikan dalam tes akademik masuk TNI.

Sejumlah persiapan dan fasilitas yang disediakan sekolah untuk memudahkan siswa daftar jadi TNI, sudah sesuai dengan persyaratan yang diberlakukan dalam rekrutmen TNI Tahun 2025. Beberapa diantaranya seperti:

       Lulusan SMA/MA/SMK Tahun 2023, 2024, dan 2025

       Nilai minimal rata-rata raport dari 3 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika) adalah 65

       Sehat jasmani dan rohani

       Tidak memiliki catatan kriminalitas

Selain itu siswa juga diperbolehkan menyertakan persyaratan prestasi, seperti sertifikat, piagam atau surat keterangan prestasi, minimal tingkat nasional dengan kriteria juara 1, 2 dan 3.

Dengan adanya dukungan dari pihak sekolah, siswa bisa lebih siap dalam mengikuti tes masuk TNI. Terlebih sekolah juga menyediakan program serta fasilitas yang dapat digunakan siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka. Selain itu, mereka juga tetap bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya karena semuanya dilakukan di lingkungan sekolah.

Psikolog: Terbuka dengan opsi bantuan mental di tengah arus informasi

Psikolog: Terbuka dengan opsi bantuan mental di tengah arus informasi
Psikolog: Terbuka dengan opsi bantuan mental di tengah arus informasi.
Jakarta - Psikolog klinis lulusan Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM) Zahrah Nabila Putri mengingatkan pentingnya rehat dan terbuka dengan opsi bantuan mental personal atau kolektif di tengah derasnya arus informasi, yang dapat membuat diri sendiri kewalahan.

“Yang perlu kita apresiasi dari gerakan kolektif yang ada di tengah situasi saat ini, adalah bagaimana warga juga terbuka untuk mengakses bantuan yang ada,” kata Zahrah saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

“Mulai dari lembaga psikologi yang memberikan layanan konseling gratis, dari gerakan-gerakan di professional mental health, atau mungkin terapis yang mengadakan sesi hening atau meditasi secara kolektif,” imbuhnya.

Lebih lanjut, psikolog yang akrab disapa Ara itu mengatakan keterbukaan dengan berbagai opsi untuk mengambil jeda secara mental, juga merupakan sebuah bentuk keberanian di tengah kondisi yang mungkin kurang baik bagi banyak orang.

Hasrat untuk ikut terus terlibat dalam mencerna dan membagikan informasi terkini seperti melalui media sosial pun terkadang dapat menjadi berat jika intensitasnya tinggi.

“Rehat dan mencari bantuan, menurut saya juga merupakan bentuk ‘perlawanan’. Kita dapat berkaca kembali, apakah emosi ini marah, sedih, energi sendiri, atau sedang merangkul energi kolektif yang begitu besar sampai membuat overwhelmed,” kata Ara.

Selain itu, ia juga mengingatkan, tidak ada salahnya membiarkan tubuh dan pikiran beristirahat dari derasnya arus informasi yang bergulir dengan cepat. Ara menekankan, bahwa istirahat juga merupakan hal yang produktif.

“Rest itu juga adalah hal yang sacred, hal yang produktif, dan juga hal yang begitu bermakna. Sesederhana untuk take a breathe, itu sangat berarti buat kita,” ujar Ara.

Untuk itu, Ara juga mengajak agar tidak lupa terhubung dengan diri sendiri, memahami emosi, dan memaknainya dengan perlahan.

Selain itu, tak lupa penting bagi setiap individu untuk memenuhi kebutuhan air dan nutrisinya, karena kesehatan fisik juga sama pentingnya dalam mencerna berita atau informasi yang terjadi.

“Lalu, tetaplah terhubung dengan orang-orang terdekat yang ada, dan kita juga bisa tetap melakukan aktivitas yang rutin, sembari terus merawat diri, serta mulai mengukur kapasitas energi yang mau di-spare setiap harinya untuk membuka atau bersuara di media sosial,” kata Ara.

“Jadi, itu adalah bagaimana kita justru lebih sadar dengan kapasitas kita sendiri, karena rasa tidak ingin ketinggalan itu justru adalah sumber kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan,” imbuhnya.

Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira/ANTARA

Cara Mengatur Keuangan Gaji 2 Juta agar Tetap Cukup

Cara Mengatur Keuangan Gaji 2 Juta agar Tetap Cukup
Cara Mengatur Keuangan Gaji 2 Juta agar Tetap Cukup.

JAKARTA – Pekerja informal di kota-kota besar mulai April hingga Agustus 2025 menemukan cara mengatur keuangan gaji 2 juta per bulan di Indonesia agar kebutuhan pokok tercukupi dan tabungan tetap terjaga.

Dengan strategi budgeting sederhana, pencatatan pengeluaran, dan dukungan teknologi, mereka berhasil bertahan di tengah tekanan biaya hidup.

Hal ini muncul karena semakin banyak pekerja, mulai dari pengemudi ojek daring hingga pedagang kaki lima, hanya memperoleh penghasilan sekitar dua juta rupiah setiap bulan.

Di tengah harga sewa kost, transportasi, dan bahan pokok yang terus naik, keterampilan mengelola uang menjadi kunci bertahan hidup. 

Salah satu contoh datang dari Sari, pengemudi ojek daring di Jakarta, yang membagi gajinya secara disiplin: sebagian besar untuk kebutuhan pokok seperti sewa, transportasi, pulsa, listrik, dan air, sebagian lagi untuk tabungan darurat, belanja harian, dan investasi mikro.

Metode yang digunakan mengadopsi prinsip empat kantong anggaran, di mana sekitar separuh gaji digunakan untuk kebutuhan utama, sedangkan sisanya dibagi untuk tabungan, kebutuhan variabel, dan investasi kecil.

Penggunaan aplikasi keuangan seperti BudgetKu membantu memantau pemasukan dan pengeluaran secara real-time serta memberikan peringatan jika pengeluaran melewati batas.

Kebiasaan mencatat setiap pengeluaran, termasuk yang bernilai kecil, membantu pekerja memahami pola belanja dan menentukan langkah penghematan.

“Dengan membiasakan mencatat pengeluaran harian, pekerja dengan gaji terbatas bisa menyadari pola pengeluaran yang sebenarnya,” kata Dr. Anita Wahyuni, ekonom Universitas Indonesia, pada 1 Agustus 2025 dalam webinar “Ketahanan Finansial Pekerja Rendah Penghasilan”.

Kepala Divisi Keuangan OJK, Budi Pranata, juga menegaskan, “Pengelolaan gaji Rp 2 juta perlu didukung dengan literasi keuangan sederhana, terutama menabung secara disiplin meski dalam nominal kecil,” dalam siaran pers OJK tanggal 20 Juli 2025.

Menurut Dr. Anita, strategi ini efektif karena memaksa seseorang memprioritaskan pengeluaran yang paling penting sebelum membelanjakan uang untuk hal lain. 

Pembagian anggaran yang jelas membuat pekerja lebih siap menghadapi kebutuhan mendadak. Sementara itu, aplikasi pencatat keuangan membantu memvisualisasikan kondisi finansial sehingga keputusan belanja bisa lebih tepat. Dengan cara ini, meskipun penghasilan tergolong rendah, mereka tetap bisa menabung dan berinvestasi, yang dalam jangka panjang memberi rasa aman finansial.

Dampaknya cukup luas. Bagi pekerja, cara mengatur keuangan gaji 2 juta seperti ini bisa meningkatkan ketahanan finansial, mengurangi risiko utang konsumtif, dan membentuk kebiasaan menabung.

Bagi aplikasi, tren ini membuka peluang menghadirkan fitur budgeting yang disesuaikan dengan penghasilan rendah, misalnya amplop digital dan edukasi otomatis. Bagi pemerintah dan LSM, data ini menegaskan pentingnya program literasi keuangan yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah agar strategi ini bisa diterapkan secara masif.

Di tengah inflasi yang menekan daya beli, langkah sederhana seperti membagi anggaran ke dalam pos kebutuhan, tabungan, fleksibilitas, dan investasi mikro terbukti ampuh menjaga kestabilan finansial. Survei Badan Pusat Statistik pada Juli 2025 menunjukkan 37 persen pekerja harian berhasil menabung minimal 10 persen dari penghasilannya, naik dari 20 persen pada tahun sebelumnya. Angka ini menandakan pergeseran positif menuju perilaku finansial yang lebih sehat.

Pada akhirnya, cara mengatur keuangan gaji 2 juta bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang bijak. Disiplin mencatat pengeluaran, konsisten menabung, dan memanfaatkan teknologi dapat membuat gaji yang terbatas tetap cukup untuk kebutuhan, bahkan membuka peluang menyiapkan masa depan. Seperti dikatakan Dr. Anita, “Bukan besarnya pendapatan yang menentukan keamanan finansial, tetapi bagaimana kita mengelolanya.”

Tips Mengelola Keuangan Pribadi untuk Menghindari Krisis Finansial

Oleh: Andi Prasetyo, CFP® (Certified Financial Planner)

Diperbarui: 9 Agustus 2025

Mengatur keuangan bukan hanya tentang menabung, tetapi juga memastikan kestabilan finansial jangka panjang. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lebih dari 50% masyarakat Indonesia mengalami kesulitan keuangan karena kurangnya perencanaan yang baik.

Dalam artikel ini, saya akan membagikan tips mengelola uang yang terbukti efektif berdasarkan pengalaman saya sebagai perencana keuangan bersertifikat.

1. Buat Anggaran Bulanan yang Realistis

Anggaran adalah peta keuangan Anda.
Langkah-langkahnya:

  • Catat seluruh pemasukan (gaji, bonus, pendapatan tambahan)

  • Kelompokkan pengeluaran: kebutuhan pokok, tagihan, tabungan, hiburan

  • Gunakan metode 50/30/20:

    • 50% kebutuhan pokok

    • 30% keinginan

    • 20% tabungan & investasi

💡 Tips: Gunakan aplikasi seperti Money Lover atau YNAB agar pencatatan lebih akurat.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat adalah penyelamat saat terjadi krisis seperti PHK, sakit, atau bencana.
Rekomendasi jumlah:

  • Lajang: 3–6 bulan pengeluaran

  • Menikah & punya anak: 6–12 bulan pengeluaran

Simpan dana darurat di rekening terpisah atau instrumen likuid seperti deposito dan reksa dana pasar uang.

3. Hindari Utang Konsumtif

Utang konsumtif (misalnya untuk membeli gadget terbaru atau liburan mewah) bisa membebani keuangan. Jika terpaksa berutang, pastikan cicilan tidak lebih dari 30% dari total penghasilan bulanan.

4. Investasi untuk Masa Depan

Jangan hanya menabung, karena inflasi akan menggerus nilainya. Pilih instrumen investasi sesuai profil risiko:

  • Konservatif: Deposito, reksa dana pasar uang

  • Moderate: Reksa dana campuran, obligasi

  • Agresif: Saham, kripto (dengan perhitungan matang)

📌 Peringatan: Selalu lakukan riset dan pahami risiko sebelum berinvestasi.

5. Asuransi sebagai Perlindungan

Asuransi kesehatan dan jiwa membantu melindungi Anda dari biaya tak terduga yang besar. Pilih polis dengan manfaat yang sesuai kebutuhan, bukan hanya karena promo atau saran agen.

Keuangan yang sehat adalah hasil dari kebiasaan yang disiplin dan keputusan yang tepat.

Mulailah dari hal kecil seperti mencatat pengeluaran, lalu berlanjut ke investasi dan proteksi. Ingat, mengatur uang berarti mengatur masa depan Anda.

Bekerja dari Rumah vs Kantor Mana yang Lebih Efektif di Tahun 2025?

Bingung pilih kerja dari rumah atau kantor? Simak perbandingan lengkap WFH vs WFO dari sisi produktivitas, kesehatan, dan budaya kerja di tahun 2025. Temukan mana yang cocok untukmu!
Bingung pilih kerja dari rumah atau kantor? Simak perbandingan lengkap WFH vs WFO dari sisi produktivitas, kesehatan, dan budaya kerja di tahun 2025. Temukan mana yang cocok untukmu!

JAKARTA - Cara Kita Bekerja Sudah Berubah! Pandemi COVID-19 memang sudah berlalu, tapi dampaknya masih terasa hingga sekarang terutama dalam hal cara kita bekerja. Dulu, kerja identik dengan duduk di kantor selama 8 jam. Tapi sekarang? Banyak yang justru merasa lebih produktif dari rumah.

Pertanyaannya: Lebih enak kerja dari rumah atau tetap ngantor?
Artikel ini akan membahas kelebihan dan kekurangan keduanya, serta solusi di tengah-tengahnya: sistem kerja hybrid. Yuk, kita bongkar semua fakta dan perspektifnya!

Tren Kerja 2025: Remote, Hybrid, dan Fleksibel

Sebelum kita bahas lebih jauh, yuk lihat dulu data terbaru:

  • 58% perusahaan di Indonesia kini menawarkan opsi kerja hybrid atau remote penuh.

  • 72% karyawan milenial merasa lebih bahagia dengan fleksibilitas kerja.

  • Sementara itu, 42% manajer menganggap karyawan lebih produktif jika bekerja dari rumah.

Artinya? Dunia kerja sudah berubah. Dan kita harus ikut adaptasi.

Kelebihan Bekerja dari Rumah (WFH)

1. Hemat Biaya & Waktu

Gak perlu keluar uang buat bensin, ongkos ojek, makan siang di luar, atau beli kopi kekinian. Waktu juga lebih efisien—gak perlu macet-macetan 2 jam sehari.

2. Fleksibel dan Lebih Bebas

Mau kerja sambil denger musik, pakai piyama, atau istirahat sebentar buat ngopi? Semua bisa! WFH memberikan kontrol atas cara kita bekerja.

3. Lingkungan Kerja Lebih Nyaman

Bagi yang punya ruang kerja di rumah, suasana bisa diatur sesuai selera. Ini bisa meningkatkan fokus dan kenyamanan.

4. Cocok untuk Pekerjaan Mandiri

Programmer, penulis, desainer, bahkan customer service sekarang bisa bekerja dari rumah tanpa hambatan berarti.

Kekurangan Bekerja dari Rumah

1. Kurangnya Interaksi Sosial

Gak ada obrolan iseng di pantry, gak ada makan siang bareng. Lama-lama, bisa bikin rasa kesepian dan terisolasi.

2. Sulit Kolaborasi

Meski ada Zoom dan Google Meet, tetap aja beda rasanya brainstorming langsung di meja kantor. Koordinasi pun bisa lebih lambat.

3. Banyak Gangguan

Anak kecil, suara TV, tetangga berisik, atau malah godaan buat rebahan. Produktivitas bisa terganggu kalau gak disiplin.

4. Sulit Pisahkan Urusan Pribadi dan Kerja

Kadang suka “kebablasan”—kerja terus sampai malam karena gak ada batasan jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat.

Kelebihan Bekerja di Kantor (WFO)

1. Komunikasi & Kolaborasi Lebih Cepat

Diskusi bisa langsung, tanpa perlu nunggu orang online. Koneksi tim jadi lebih kuat.

2. Budaya Kerja Terjaga

Kehadiran fisik memperkuat budaya perusahaan. Karyawan juga lebih merasa “terlibat” dan kompak.

3. Fasilitas Lengkap

Kantor biasanya punya fasilitas pendukung: ruang meeting, Wi-Fi stabil, printer, hingga kopi gratis.

4. Batasan Waktu Lebih Jelas

Pulang kantor ya selesai kerja. Gak ada distraksi rumah tangga di jam kerja.

Kekurangan Bekerja di Kantor

1. Waktu & Biaya Perjalanan

Bisa habis 1–3 jam di jalan, ditambah stres karena macet atau transportasi umum yang padat.

2. Lebih Boros

Mulai dari biaya makan siang, bensin, parkir, sampai beli kopi tiap hari—semuanya bisa menguras dompet.

3. Risiko Kesehatan

Di kota besar, bekerja di kantor bisa berarti terpapar polusi, stres, bahkan potensi penyakit dari lingkungan ramai.

Dampak Terhadap Kesehatan Mental & Fisik

Bekerja dari Rumah

  • Lebih fleksibel, tapi juga bisa membuat karyawan merasa kesepian.

  • Risiko burnout karena jam kerja tak menentu.

  • Masalah postur tubuh karena meja kerja yang seadanya.

Bekerja di Kantor

  • Interaksi sosial lebih tinggi, bisa mengurangi stres.

  • Namun, stres perjalanan dan tekanan atasan bisa berdampak buruk pada mental.

  • Fisik juga bisa lelah karena commuting dan duduk terlalu lama.

Solusi di Tengah: Sistem Kerja Hybrid

Nah, di sinilah muncul solusi tengah: kerja hybrid.

Hybrid = kombinasi kerja dari rumah dan kantor. Misalnya: 3 hari WFO, 2 hari WFH.

Keuntungan Hybrid

  • Dapat fleksibilitas tanpa kehilangan budaya tim

  • Lebih mudah mengatur jadwal meeting

  • Karyawan punya pilihan sesuai kebutuhan

Contoh Sukses

Perusahaan seperti Google, Tokopedia, dan Gojek sudah menerapkan model hybrid sejak 2022 dan hasilnya? Karyawan lebih bahagia, turnover turun, dan produktivitas naik.

Bagaimana Memilih Gaya Kerja yang Tepat?

Tak semua orang cocok dengan cara kerja yang sama. Yuk pertimbangkan:

FaktorCocok WFHCocok WFO
Punya anak kecil?
Kerja tim & meeting intens?
Butuh fokus dan tenang?
Suka suasana sosial?
Disiplin kerja tinggi?

Tips Bagi Karyawan:

  • Kenali jam produktif diri sendiri

  • Buat jadwal kerja yang konsisten meski di rumah

  • Pisahkan ruang kerja dari ruang pribadi

Tips Bagi Perusahaan:

  • Bangun kepercayaan dan ukur kinerja secara objektif

  • Berikan opsi hybrid jika memungkinkan

  • Buat aturan kerja yang fleksibel tapi terstruktur

Pilihan Ada di Tangan Anda

Tidak ada satu sistem kerja yang paling sempurna untuk semua orang. Baik WFH maupun WFO punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

🔍 Kalau kamu butuh fleksibilitas dan kerja mandiri → WFH cocok.
👥 Kalau kamu butuh kolaborasi intens dan rutinitas → WFO lebih ideal.
⚖️ Dan kalau kamu ingin yang seimbang? → Hybrid bisa jadi jawabannya.

Yang terpenting, baik perusahaan maupun karyawan harus komunikatif, adaptif, dan saling percaya.

FAQ (Pertanyaan Umum)

Q: Apakah WFH lebih produktif daripada kerja di kantor?
A: Tergantung jenis pekerjaan dan karakter karyawan. Banyak yang lebih produktif di rumah karena minim gangguan, tapi ada juga yang justru butuh suasana kantor untuk fokus.

Q: Apakah sistem hybrid efektif untuk semua perusahaan?
A: Tidak selalu. Tapi bagi sektor digital, kreatif, dan teknologi, sistem hybrid sudah terbukti efektif meningkatkan produktivitas dan retensi karyawan.

Q: Apa tantangan terbesar kerja dari rumah?
A: Disiplin diri dan batasan waktu. Banyak yang kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu istirahat saat WFH.

Play